Iwut Wulandari, YPBB – Indonesia

Siapakah yang memastikan sampah dari rumah kalian terkelola sehingga tidak perlu ada lagi pembakaran sampah yang berbaya bagi kita?

Mereka adalah para pekerja yang memastikan bahwa sampah kita dikumpulkan dan banyak dari mereka juga melakukan pengomposan dan mengumpulkan material yang bisa didaur ulang.

Sebagian besar pekerja sampah di Indonesia adalah pekerja informal. Banyak dari mereka adalah pemulung yang bekerja dengan upah harian minimum. Cukup banyak dari mereka yang bekerja dalam koordinasi dengan tokoh masyarakat, mengumpulkan sampah dari rumah tangga dan membawa mereka ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Juga banyak pekerja informal yang bekerja di TPS untuk mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang atau dibuat kompos.

Pekerjaan mereka cukup sulit, seringkali menimbulkan risiko bagi kesehatan dan keselamatan mereka. Di Bandung dan di seluruh Indonesia, para pengumpul tidak terbiasa mengenakan alat pelindung diri, seperti masker dan sarung tangan. Beberapa pekerja pengangkut sampah yang bekerja lebih formal di perusahaan juga sering bekerja dengan upah minimum dan kondisi kerja yang buruk.

Salah satu contoh kejadian pengumpulan sampah yang melukai petugas adalah tragedi meninggalnya Pak Hermawan petugas pengelola sampah di wilayah Kelurahan Sukaluyu dan Pak Udung petugas pengumpul sampah di wilayah Kelurahan Neglasari, Kota Bandung, akibat dari infeksi luka terkena tusuk sate ketika mengumpulkan sampah tercampur dari warga. Berbeda halnya dengan cerita dari almarhum Pak Udin yang dahulu bertugas sebagai pengangkut sampah di wilayah Kelurahan Sukaluyu Menurut almarhum Pak Udin ketika beliau beberapa kali terluka akibat tusuk sate yang tercampur dengan sampah lainnya. Ketika beliau terkena tusukan sate ini, Pak Udin langsung sigap pergi ke puskesmas untuk mengobati lukanya sehingga tidak berujung pada infeksi yang mengancam nyawa beliau.Tidak semua petugas pengumpul sampah memiliki kesadaran seperti almarhum Pak Udin, keterlambatan penanganan infeksi luka para petugas sering kali disebabkan oleh keengganan para petugas pengumpul sampah untuk berobat karena dirasa berat mengeluarkan biaya pengobatan. Sedangkan para petugas ini kurang  mendapatkan bantuan dari pihak kewilayahan untuk menjamin serta membantu biaya pengobatannya.

Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari lalu, YPBB melalui program Zero Waste Cities dengan dana USAID dan Plastic Solution Fund  bekerjasama dengan DLHK Kota Bandung, UPT Puskesmas Cijerah, UPT Puskesmas Puter dan UPT Puskesmas Neglasari sebagai wujud terima kasih kepada petugas sampah mengadakan cek pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan ini pun merupakan bagian dari target program Zero Waste Cities yaitu meningkatkan kualitas hidup petugas pengumpul sampah. Kebersihan wadah pengumpulan sampah dan pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir akibat dari mikroorganisme penyebab penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan petugas pengumpul sampah dari jenis-jenis sampah yang dapat melukai.

Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis untuk petugas sampah ini diadakan dari tanggal 20 Februari 2020 hingga 22 februari 2020 . Tanggal 20 Februari 2020 diadakan di Kelurahan Gempolsari, tanggal 21 Februari 2020 di Kelurahan Sadang Serang dan tanggal 22 Februari 2020 di Kelurahan Sukaluyu. Dengan memanfaatkan momen Hari PEduli Sampah Nasional ini menjadi momentum refleksi bagi semua terlebih untuk lebih memperhatikan kesejahteraan serta keselamatan para petugas sampah yang rentan akan resiko kesehatan dari pekerjaan mereka. Dan juga menjadi momentum untuk semakin mendorong pemilahan sejak dari sumber untuk meminimalkan  resiko kesehatan petugas sampah dan mampu mengurangi jumlah sampah yang terkirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Kegiatan YPBB untuk petugas sampah pun berlanjut pada masa pandemi Corona ini, ketika cukup banyak orang yang bekerja di rumah saja atau #WorkFromHome. Tapi ada beberapa sektor pekerjaan yang mengharuskan tetap bekerja seperti biasa salah satunya adala petugas sampah. Tanpa jasa mereka pasti akan terjadi penumpukkan sampah yang akan memperparah keadaan.

Di masa pandemi corona ini, penggunaan masker sekali pakai, tisu dan sampah infeksius meningkat tajam. Akibatnya petugas sampah pun harus berhadapan dengan sampah infeksius tersebut. Padahal rata-rata petugas sampah ini tidak memiliki dan dibekali Alat Pelindung Diri (APD) yang kemungkinan berakibat akan adanya penularan virus corona kepada petugas.

Tergerak dari hal tersebut YPBB menginisiasi kegiatan Donasi APD untuk petugas sampah yang diadakan dari tanggal 26 Maret hingga 20 April 2020.

Kegiatan ini dilakukan karena pemerintah belum hadir di sektor pengumpulan. Sektor yang justru paling krusial kalau kita mau mencegah sampah masuk sungai. Kehadiran sistem pemerintahan di pengumpulan secara bertahap sedang diuji coba di Kota Bandung dan Kota Cimahi. Mulai dengan PERDA baru yang sudah selesai, dan sekarang ke tahap penyiapan aturan teknis dan uji coba di dua kelurahan di setiap kota (dimana pemerintah mulai mengambil alih sistem pengumpulan).Kalau proses ini berhasil, ke depan APD petugas tidak perlu mengandalkan donasi lagi. Untuk itu pemerintah daerah perlu didukung agar beban biaya pengangkutan dan pemrosesan akhir jangan memberatkan. Dan lebih baik lagi kalau ada skema bantuan finansial untuk proses transisi Karena proses transisi ini membutuhkan investasi yang cukup besar ujar David Sutasurya, direktur eksekutif YPBB.

Hasil program donasi apd untuk petugas ini dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama dibagikan kepada 340 petugas di 3 kota program Zero Waste Cities (Bandung, Cimahi dan Kabupaten Bandung). Sedangkan di tahap ke dua donasi APD ini diberikan pada petugas pengkomposan dan pengelola sampah di kelurahan dan RW binaan DLHK.

Penggalangan donasi ini sebagai salah satu hal untuk meningkatkan kepedulian masyarakat ditengah pandemi ini terlebih kepada petugas sampah. Selain tugas mereka cukup berat, terdapat resiko besar juga yang mengintai mereka ditengah pandemi corona ini. Paket APD yang diberikan berupa masker kain, sarung tangan karet, sabun cuci tangan cair, handsanitizer, tas kain dan himbauan untuk petugas sampah.

The Personal Protective Equipment package for waste worker.

Dukungan lain untuk petugas sampah ini pun diberikan juga oleh GAIA (Global Alliance for Incinerator Alternatives) saat ini sedang melakukan pengalangan dana untuk membantu para petugas sampah dibeberapa negara. Untuk lebih lengkapnya silahkan lihat di http://no-burn.org/contribute.

Read in English: Our Care for Waste Workers 

————

GAIA berterima kasih atas kontribusi dari YPBB dan Kota Bandung.Artikel ini dibuat melalui proyek Zero Waste Cities – sebuah inisiatif yang dikoordinasikan oleh GAIA Asia Pasifik dan didanai oleh Plastic Solutions Fund (PSF) dan the United States Agency for International Development (USAID). Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini tidak mencerminkan pandangan dari penyandang dana.